Buya Hamka dan Kehidupan Politik dan Sastra

Buya Hamka dan Kehidupan Politik dan Sastra

Muhammad Reza Santirta

Buya Hamka atau yang nama aslinya Haji Malik Karim Amrullah merupakan anak dari seorang ustadz pendiri Sumatera Thawalib bernama Haji Abdul Karim bin Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatra Barat pada 17 November 1908. Mengenai nama Buya, nama ini merupakan nama panggilan dari Sumatera Barat yang berarti ayah yang mana kata ini sama dengan istilah Arab abi. Kemudian Hamka sudah disebutkan di atas merupakan nama singkatan dari nama aslinya dan merupakan nama pena sewaktu ia berkarier di dunia kepenulisan di majalah mingguan Pedoman Masyarakat.

 

Hamka merupakan seorang ulama yang terkenal kedalaman ilmunya antara lain dibeberapa bidang seperti filsafat, agama, sastra, fiqih, politik, dan sosial. Banyak karya yang berhasil ia hasilkan untuk dinikmati masyarakat luas antara lain novel dan cerpen, Tafsir Al-Azhar (5 jilid), dan beberapa karya di dalam majalah maupun di berbagai artikel. Ia mulai aktif di dunia politik saat ia mengikuti pendirian Organisasi Muhammadiyah pada tahun 1923. Ia kemudian mendirikan Cabang Muhammadiyah tahun 1929. Kemudian ia dipanggil ke Bengkalis dan mendirikan Cabang Muhammadiyah di sana. Ia kemudian kembali berangkat ke Makassar dan mengetuai Cabang Muhammadiyah di sana.

 

Hingga tahun 1934, ia pulang kembali ke kampung halamannya dan tinggal di Medan. Disana ia mendapat tawaran dari M. Yunan Nasution dan juga tawaran dari Haji Asbiran Ya’kub, dan Mohammad Rasami (mantan sekretaris Muhammadiyah Bengkalis) untuk memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Di sinilah nama Hamka menjadi buah bibir masyarakat dan nama pena ini kemudian dikenal melalui tulisannya di rubrik Tasawuf Modern.

 

Pada tahun 1935 ia pulang ke Padang Panjang. Di sana ia mendirikan Kuliyatul Mubalighin dan menyalurkan karya tulisnya dalam bidang jurnalistik.  Di antaranya: Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Dari Lembah Cita-Cita. Pada tahun 1949 ia merantau ke jakarta dan menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Pada tahun 1950, setalah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, Hamka melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab. Di sana, ia dapat bertemu langsung dengan Thaha Husein dan Fikri Abadah. Sepulangnya dari kunjungan tersebut, ia mengarang beberapa buku roman. Di antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Pada tahun 1951 ia mengarang autobiografinya dan tahun 1952 ia mendapat undangan dari Amerika dan berkunjung ke sana.

 

Hamka juga aktif di Organisasi Masyumi dan juga menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia pertama pada tahun 1977. Ia memberikan fatwa-fatwa yang dianggap menentang pemerintah salah satunya adalah pelarangan tentang pelaksanaan Natal Bersama. Pemerintah Orde Baru bertekat untuk mencabut aturan tersebut namun Hamka tetap bersikukuh dengan aturan ini. Hingga akhirnya ia menyatakan keluar dari jabatan ketua MUI pada tahun 1981. Namun pada tahun itu juga ia meninggal dunia pada tanggal 24 Juli dan karyanya banyak yang disanjungi dan dipelajari oleh berbagai kalangan mulai dari pelajar hingga mahasiswa.

 

Banyak pemikiran yang ia tuangkan mengenai bidang-bidang yang ia geluti antara lain sastra, agama, filsafat, politik, dan sosial. Namun yang paling menonjol adalah tentang sastra dan agama. Dalam berkarya sastra sebaiknya orang itu harus memiliki empat kriteria antara lain pertama memiliki daya imajinasi, kedua memiliki daya ingat yang baik, ketiga daya hafal yang kuat, dan keempat mampu memadukan ketiga hal diatas menjadi tulisan. Kemudian dalam sikapnya ada satu yang sangat menarik dari Buya Hamka, yaitu keteguhannya memegang prinsip yang diyakini. Inilah yang membuat semua orang menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi Hamka. Pada zamam pemerintah Soekarno, Hamka berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang. Tidak hanya berhenti di situ saja, Hamka juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ”Panji Masyarat” yang dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ”Demokrasi Kita” yang mengkritik  konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, kegiatan Hamka lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Ideas, Warta Iqbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s